DERIVASI KONSEP NEGARA KEPULAUAN DALAM UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

Tahegga Primananda Alfath, Radian Salman, Sukardi Sukardi

Abstract


ABSTRAK

Pasal 25A Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 pada penambahan afiks “yang berciri nusantara” memberikan derivasi terhadap konsep negara kepulauan sebagaimana diatur dalam United Nations Conventions on The Law of The Sea Tahun 1982, bahwa ada ciri khusus bagi Indonesia dalam memaknai konsep negara kepulauan.  Untuk membahas hal tersebut, penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum dengan pendekatan perundang-undangan, pendekatan konsep, dan pendekatan sejarah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ratio legis derivasi konsep negara kepulauan dalam konstitusi Indonesia pada amandemen kedua sebagai penguatan kedaulatan negara dalam pembangunan wilayahnya harus berciri nusantara. Founding constitution sejak awal perumusan, menyatakan bahwa wilayah Indonesia memiliki ciri khusus, hal tersebut juga menjadi dasar logis deklarasi Juanda bahwa Indonesia adalah negara kepulauan. Maka, akibat hukum pembangunan wilayah yang tidak didasarkan atas ketentuan konstitusi, khususnya politik hukum negara kepulauan yang berciri nusantara, memiliki potensi inkonstitusional. Kerangka hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara kepulauan yang berciri nusantara.  

Kata kunci: delegasi peraturan; konstitusi; negara kepulauan.

 

ABSTRACT

Article 25A -The Constitution of the Republic of Indonesia in 1945. The addition of affixes "which was characterized by nusantara" certainly provided a derivation of the concept of an archipelagic state as stipulated in the United Nations Convention on the Sea 1982, that there were special characteristics for Indonesia in interpreting the concept of an archipelagic state. To discussed this, this research used a legal research method with statute approach, conseptual approach, and historical approach. The result of this research indicated that the ratio legis of derivation the consept of an archipelagic state in Indonesian constitution in the second amandement as strengthening the souverignty of country in development of its territory must be characterized by Nusantara. Founding constitution since the beginning of formulation, stated that the territory of Indonesia had special characteristics, it also became logical basic for the Juanda Declaration that Indonesia was archipelagic state. Thus, the legal consequences of regional development that were not based on constitutional provisions, especially the legal politics of archipelagic state that characterized by nusantara, had unconstitutional potensial. The legal framework of the unitary state of the Republic Indonesia was an archipelagic state that characterized by Nusantara.   

Keywords: archipelagic state; constitution; regulatory delegation. 

 


Keywords


delegasi peraturan; konstitusi; negara kepulauan.

References


Buku

Alfath, Tahegga Primananda, Lilik Pudjiastuti, Dina Sunyowati, The Legal Framework of Green Governance in Archipelagic State Based on Constitution of The Republic Indonesia, Advances in Social Science, Education and Humanities Research, volume 358, prosiding 3rd International Conference on Globalization of Law and Local Wisdom (ICGLOW), 2019

Atmadja, I Dewa Gede, Hukum Konstitusi: Problematika Konstitusi Indonesia Sesudah Perubahan UUD 1945, Setara Press, Malang, 2010.

Chemerinsky, Erwin, Constitutional Law: Principles and Policies, Aspen Publisher, New York, 2002.

Manan, Bagir dan Susi Dwi Harijanti, Memahami Konstitusi: Makna dan Aktualisasi, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2015.

Marzuki, Peter Mahmud, Penelitian Hukum, Cetakan ke-5, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2009.

Sukardi, Pengawasan dan Pembatalan Peraturan Daerah, Genta Publishing, Yogyakarta, 2016.

Tim Penyusun Mahkamah Konstutusi Republik Indonesia, Naskah Komprehensif Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Latar Belakang, Proses, dan Hasil Pembahasan 1999-2002, Buku II Sendi-Sendi/Fundamental Negara, edisi revisi, Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, Jakarta, 2010.

Winarwati, Indien, Konsep Negara Kepulauan: Prespektif Hukum Laut dan Penetapan Garis Batas Negara, Setara Press, Malang, 2016.

Jurnal

Leatemia, Johanis, Sebstansi Pengaturan Hukum Daerah Kepulauan, Jurnal Hukum dan Pembangunan Tahun ke-41 Nomor 2 April-Juni 2011.

Lombok, Lesza Leonardo, Kedaulatan Negara Vis a Vis Keistimewaan dan Kekebalan Hukum Organisasi Internasional dalam Sebuah Intervensi Internasional, Jurnal Pandecta Volume 9 Nomor 1 Januari 2014.

Putri, Siti Noor Malia, Archipelagic State Responsibility on Armed Robbery a Sea, Indonesian Journal of International Law Volume 14 Number 4, 2017.

Soemarmi, Amiek, Erlyn Indarti, Pujiyono, Amalia Diamantina, Konsep Negara Kepulauan dalam Upaya Perlindungan Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia, Jurnal Masalah-Masalah Hukum Jilid 46 Nomor 3, Juli 2019.

Soepandji, Kris Wijoyo dan Muhammad Farid, Konsep Bela Negara dalam Prespektif Ketahanan Nasional, Jurnal Hukum dan Pembangunan Volume 48 Nomor 3, 2018.

Riyanto, Sigit, Kedaulatan Negara Dalam Kerangka Hukum Internasional Kontemporer, Jurnal Yustisia Volume 1 Nomor 3 September – Desember 2012.

Wibawa, Kadek Cahya Susila, Penegasan Politik Hukum Desentralisasi Asimetris dalam Rangka Menata Hubungan Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah di Indonesia, Administrative Law and Governance Journal Volume 2 Issue 3, Agustus 2019.




DOI: http://dx.doi.org/10.24970/bhl.v4i2.101

Refbacks



Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.



Jurnal Bina Hukum Lingkungan telah terindeks pada:

                                                          

 

Journal Accreditation:



Plagiarism Check:

BHL is licensed under a Creative Commons Attribution

  Redaksi Jurnal Bina Hukum Lingkungan © 2016