KEARIFAN LOKAL DALAM PROSES PEMBUATAN TENUN IKAT TIMOR (STUDI PADA KELOMPOK PENENUN DI ATAMBUA-NTT)

Marhaeni Ria Siombo

Abstract


ABSTRAK

Pada masyarakat Nusa Tenggara Timur dikenal beraneka macam tenunan yang sampai saat ini tetap ada, dan digunakan dalam aktivitas keseharian mereka. Corak dan warna yang mendekati warna alam dengan warna dasar gelap seperti hitam, coklat, merah hati dan biru tua, dengan tidak banyak variasi warna menjadi ciri khas tenunan Flores dan Timor. Hal ini karena para penenun kain menggunakan pewarna nabati, yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti mengkudu, tauk, kunyit dalam proses pewarnaan benang. Pewarnaan dengan menggunakan bahan-bahan zat pewarna berasal dari alam, limbah yang dihasilkan lebih ramah lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah menggali nilai-nilai kearifan lokal dalam proses pembuatan tenun ikat Atambua, untuk diatur dalam regulasi pemerintah daerah. Metode observasi digunakan dalam mengamati proses pembuatan kain tenun. Salah satu cara mempertahankan kearifan lokal adalah melalui regulasi pemerintah, dalam bentuk Peraturan Daerah.

Kata kunci: kearifan local; kain tenun; regulasi

 

ABSTRACT

The people of East Nusa Tenggara are known for their various types of woven materials which until now still exist, and are used in their daily activities. Shades and colors that are close to natural colors with dark base colors such as black, brown, red heart and dark blue, with not many color variations are characteristic of Flores and Timor woven. This is because fabric weavers use vegetable dyes, which come from plants, such as noni, tauk, turmeric in the process of coloring thread. Coloring using dyes derived from nature, the waste produced is more environmentally friendly. The purpose of this research is to explore the values of local wisdom in the process of making Atambua ikat, to be regulated in local government regulations. The observation method is used in observing the process of making woven fabrics. One way to maintain local wisdom is through government regulations, in the form of Regional Regulations.

Keywords: local wisdom; woven fabric; regulation.

Keywords


Kearifan Local; Kain Tenun Ikat; Regulasi

References


Buku

Hadi P.Sudharto, 2001, Dimensi lingkungan Perencanaan Pembangunan, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press;

Ihromi, T.O, 2003, Antropologi Hukum Sebuah Bunga Rampai, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

---------------, 1993, Antropologi dan Hukum, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Kontjaraningrat, 1996, Pengantar Antropologi, Jakarta: Rineka Cipta, Keraf Sony, Etika Lingkungan, Jakarta: Kompas, 2006;

Muhamad Bushar, 1991, Azas-azas Hukum Adat Suatu Pengantar, Jakarta: Pradnya Paramita,

Rahardjo Satjipto, 2010, Penegakan Hukum Progresif, Jakarta: Kompas;

Saptomo Ade, 2010, Hukum dan Kearifan Lokal, Jakarta: Grasindo;

Siombo, Marhaeni Ria, 2015, Dasar-dasar Hukum Lingkungan dan Kearifan Lokal, Jakarta: Penerbit Unika Atma Jaya.

Jurnal

Fajrini Rika, 2015, “Hak Biokultural Masyarakat Dalam Kebijakan Konservasi Sumber Daya Hayati”, Jurnal Hukum Lingkungan Indonesia, Indonesian Center for Environmental Law, Vol 2 Issue 2;

Sumedi, 2015, “Konservasi Keanekaragaman Hayati di Indonesia: Rekomendasi Perbaikan Undang-Undang Konservasi”, Jurnal Hukum Lingkungan Indonesia, Indonesian Center for Environmental Law, Vol 2, Issue 2.




DOI: http://dx.doi.org/10.24970/bhl.v4i1.88

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.



Jurnal Bina Hukum Lingkungan telah terindeks pada:

                                                          

 

Journal Accreditation:



Plagiarism Check:

BHL is licensed under a Creative Commons Attribution

  Redaksi Jurnal Bina Hukum Lingkungan © 2016